Wednesday, February 10, 2016

I'm Teacher and I'm Happy

It has been more than one year I didn't open my blog. It was because I had so many things to do. I always wanna write something useful here, but some business force me to leave it.

This year I teach in Grade 4. And yes it is very different. They are haven't mature yet. I must reduce my paradigm level due to them. They just passed third grade and they haven't understand yet how to behave like an upper grade student.

Most of them are 9 years old, which is commonly grade 4 student must be 10 years old. So, I need to do big effort to make them understand about some rules.

But overall, they are still children. I love them just the way they are. They are cute and sometime make me laugh by myself. They make me smile secretly because of their funny acts.

I am happy to be a teacher. I never imagine before that someday I will be like this. I learn many things from my students. I love them maybe more then their parents love them.

Tuesday, January 27, 2015

#1 (Belum ada judul)

Sejenak ia terhenti. Tatapnya tertuju pada hiruk pikuk keramaian dan bisingnya suara kendaraan yang lalu lalang. Gedung-gedung bertingkat di seberang jalan tak mampu melindunginya dari sengatan panas mentari. Sesekali tangannya mengusap peluh yang tak berhenti mengalir di pelipis mata. Tangan kirinya menggenggam tas jinjing hitam erat-erat, seakan ada barang berharga di sana. Ia gusar. Hatinya bimbang. Ke manakah lagi ia hendak melangkah? Tak ada lagikah tempat yang dapat menerimanya? Oh, alangkah susahnya mempertahankan hidup.
Ini pertama kalinya ia berada di kota metropolitan sendirian. Tak ada tempat singgah. Tak ada tempat bernaung. Sahabat tak punya, apatah saudara.
Haruskah aku kembali? Ah, apa kata tetangga. Juga Emak yang telah melepas kepergiannya dengan linangan air mata.
Janu, nama lelaki itu, merasa hidupnya tak seberuntung tetangganya, Mudin. Sudah hampir dua tahun Mudin bekerja sebagai TKI di Malaysia, setidaknya begitulah kabar yang didapat dari istrinya. Setiap bulan, Mudin selalu mengirimkan uang untuk istri dan keempat anaknya. Itu pun dalam jumlah yang lumayan besar. Meski istri Mudin tak pernah bercerita berapa besar jumlah yang dikirim Mudin, Janu dapat melihat dari uang jajan yang diberikan istri Mudin untuk anak-anak mereka.
Janu duduk di bawah pohon dekat zebra cross tempatnya berdiri tadi. Jarak lima meter darinya ada pedagang kaki lima. Dengan cermat ia memperhatikan warung kecil itu. Pedagangnya seorang bapak paruh baya.
Tentu bapak tua itu telah banyak makan asam garam selama hidup di kota ini. Hendaknya aku bertanya padanya.
Janu mendekati bapak pedagang kaki lima. Si Bapak sedang asyik mengisi TTS. Ia tak menyadari kehadiran Janu. Janu merogoh saku celana. Didapatinya selembar uang lima ribuan. Uang yang dimilikinya tinggal selembar itu. Kepalanya pusing memikirkan hendak makan apa ia esok, atau setidaknya yang terdekat adalah makan malam.
"Pak, berapa harga minuman ini?" tanya Janu pada Bapak pedagang kaki lima.
"Dua ribu saja, Nak." jawab Si Bapak tanpa mengalihkan pandangannya dari buku TTS.
Janu terkejut. "Biasanya cuma seribu, Pak. Kok mahal sekali?"
"Biasanya itu di mana, Nak? Ini kota besar. Apa-apa serba mahal. Kalau tidak mau beli ya sudah." Si Bapak tetap sibuk dengan TTS-nya.
Oh, Tuhan, malang benar nasibku...
Melihat sikap pedagang tersebut, Janu mengurungkan niatnya untuk bertanya. Ia memasukkan lagi uangnya ke saku. Matanya nanar memandangi jalanan yang masih saja ramai. Entah di mana ia akan tidur malam ini.
Janu memutuskan untuk meninggalkan si pedagang kaki lima yang tak ramah.
Beginikah rupanya hidup di kota besar? Sungguh memilukan...
Janu terus melangkah mengikuti kemauan kakinya. Tanpa alamat dan tanpa tujuan. Tubuhnya mulai lelah. Langkahnya pun mulai gontai.
Dari kejauhan, ia melihat sebuah masjid. Ia telah membayangkan betapa nikmat membaringkan tubuh barang semenit dua menit. Tentu tak kan ada yang melarang. Toh, bisa pula ia dikatakan sebagai musafir.
Di muka masjid, ia ingat pesan Pak Haji, guru ngaji di kampungnya.
"Kalau hendak masuk masjid, berdoalah. Niscaya engkau mendapat berkah." kata Pak Haji saat itu.
Sayangnya Janu tidak hafal doa masuk masjid.
Ah, Tuhan itu Mahabaik. Dengan bismillah saja kurasa cukup...
Janu melangkahkan kaki kirinya hendak melewati pintu, namun terhenti. Ia teringat lagi kata Pak Haji.
"Rasulullah mengajarkan kita untuk mendahulukan kaki kanan ketika masuk masjid."
Janu kembali ke teras. Kemudian menyusun langkahnya dengan baik agar kaki kanan terlebih dahulu yang masuk. Kemudian ia mengucap basmallah.
Lamat-lamat Janu duduk di sudut masjid. Ia mengatur posisi tubuhnya agar dapat berbaring dengan nyaman dan menggunakan tas jinjingnya sebagai alas kepala.
Angin sepoi-sepoi berhembus melalui teralis jendela. Membelai kulit Janu dengan lembutnya. Pelan-pelan mata Janu terasa berat. Hingga akhirnya Janu pun tertidur dengan pulas. Perjalanan panjang hari ini membuatnya begitu lelah.
Janu membuka matanya perlahan ketika seorang kakek mengguncang-guncang tubuhnya.
"Nak, waktu Ashar sudah masuk. Mari kita shalat." ajak kakek tersebut. Si kakek menghidupkan pengeras suara. Sepertinya hendak mengumandangkan adzan.
Janu mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia bangkit dan berjalan ke tempat wudhu. Namun sayangnya, Janu lupa urutan berwudhu. Ia celingukan, berharap ada orang yang juga hendak berwudhu.
Setelah beberapa menit, yang ditunggu tak kunjung datang. Adzan pun telah selesai dikumandangkan. Diintipnya si kakek yang tadi membangunkannya. Ia sedang shalat.
Ah, si kakek sudah shalat. Bagaimana denganku? Sedangkan aku tak hafal urutan shalat...
Akhirnya Janu mengambil wudhu tanpa urutan. Ia asal saja membasuh wajah, kepala, tangan, dan kakinya. Setelah selesai dengan wudhunya yang tak jelas, ia memasuki masjid dan berdiri di belakang si kakek yang sedang duduk bersila.
"Mari kita mulai." Si kakek berdiri dan bersiap di tempat imam. "Silakan iqamah, Nak." lanjutnya.
Janu bingung.
Bagaimana mungkin aku hendak iqamah? Bacaannya saja tak tahu...
Karena Janu tak jua mengumandangkan iqamah, si kakek menoleh ke arahnya. Janu menatap si kakek dengan malu.
"Maaf, Kek. Sa-saya tidak hafal." katanya merasa bersalah.
Si kakek terdiam. Kemudian ia menghadap kiblat dan mengumandangkan iqamah. Setelah selesai, ia menggamit tangan Janu dan memintanya berdiri di samping kanannya, namun agak sedikit ke belakang.
Janu tak mengerti maksud kakek tersebut.
Bukankah makmum seharusnya berdiri di belakang imam?
Namun Janu tetap mengikuti kemauan si kakek tanpa banyak tanya.
Shalat yang hanya empat rakaat terasa amat panjang bagi Janu. Sudah lama sekali sejak ia berhenti mengaji di surau dekat rumahnya, ia tak mengaji maupun shalat. Kira-kira sudah 15 tahun lamanya.
Selesai shalat, Janu bersalaman dengan si kakek. Ia bangkit dan hendak mengambil tas jinjingnya. Namun alangkah terkejutnya ia ketika tak ia dapati tas jinjingnya di tempat ia berbaring tadi.
Wajahnya pucat pasi.
"Kakek, apakah kau melihat tas yang kuletakkan di sini tadi?" tanyanya sambil menghampiri si kakek yang sedang berdoa.
Si kakek tak mengindahkan pertanyaan Janu. Ia tetap berdoa dengan khusyuknya. Sementara Janu tak sabar menunggu jawaban dari si kakek, ia mengguncang-guncangkan tubuh orang tua di depannya itu.
"Ada apa gerangan, Nak?" tanya si kakek setelah selesai dengan doanya.
Janu tampak sangat putus asa. Dadanya sakit menahan tangis. Ia berharap si kakek menyimpankan tas jinjing itu untuknya.
"Tas..." katanya terhenti sejenak, kemudian, "apakah kau melihat tas jinjingku?"
Dengan wajahnya yang tenang, si kakek menjawab. "Sejak aku datang, aku tak melihat engkau bersama tas yang kau maksud. Bahkan saat kau tertidur."
Hati Janu hancur berantakan.
"Jadi?" suara Janu mulai tercekat. Berat baginya untuk melanjutkan pertanyaan.
"Apakah tasmu hilang?" tanya si kakek.
Kepala Janu tertunduk. Isak tangis tak dapat ia bendung.
Ya, Tuhan, mengapa Engkau mengujiku seperti ini?
"Sabar ya, Nak. Lain kali hati-hati. Di kota besar seperti ini, kita tak bisa meletakkan barang sembarangan." pesan si kakek sambil mengusap bahu Janu dengan lembut. Kemudian si kakek beranjak pergi meninggalkan Janu yang malang.
Janu membiarkan dirinya larut dalam tangis dan kesedihan. 
Haruskah aku tinggalkan kota ini dan kembali ke kampung halaman? Namun, dengan apa aku kembali? Uang saja aku tak punya...

Tiba-tiba ia teringat selembar lima ribuan yang ada di saku celananya. Dirogoh saku celananya dan ia dapatkan uang itu masih di sana.

***terhenti.. lagi-lagi..

Wednesday, February 20, 2013

11 Jebakan Kehidupan

Anda akan dengan mudah dapat menemukan keyakinan-keyakinan dasar yang melatarbelakangi sikap, emosi, dan perilaku Anda. Lebih jauh lagi, dengan mengetahui berbagai keyakinan mendasar yang ada di dalam diri Anda, Anda bisa mencoba untuk menggali lifetrap (jebakan kehidupan) Anda. Young dang Kloska (1993), dua orang Cognitive Therapist dari Amerika, berdasarkan praktek terapinya, berhasil mengidentifikasi 11 JEBAKAN KEHIDUPAN yang sering mengganggu kehidupan seseorang.

Ke-11 jebakan itu adalah:

  • Abandonment (Si Takut Sendirian)
  • Mistrust and Abuse (Si Curigaan)
  • Dependence (Si Tergantung)
  • Vulnerability (Si Rentan)
  • Emotional Deprivation (Si Dingin)
  • Social Exclusion (Si Aneh)
  • Defectiveness (Si Kurang Berharga)
  • Failure (Si Gagal)
  • Subjugation (Si Kurang Penting)
  • Unrelenting Standards (Si Tidak Toleran)
  • Entitlement (Si Egois)


ABANDONMENT merupakan jebakan kehidupan yang disebabkan oleh kurangnya rasa aman di dalam keluarga sewaktu kecil. Kehilangan orang yang dicintai, baik itu karena meninggal, pergi dari rumah, atau sering tidak ada di rumah adalah beberapa situasi yang menyebabkan seseorang merasa ditinggalkan atau dibuang. Orang tua yang lebih sibuk dengan pekerjaan, hobi, atau perceraian yang mengakibatkan hilangnya keberadaan salah satu dari orang tua, menyebabkan seorang anak merasa ditinggal atau dibuang. Seseorang dengan jebakan kehidupan abandonment cenderung memunyai kehidupan yang penuh dengan peristiwa dibuang, karena orang tersebut merasa memang layak untuk ditinggal dan dibuang. Perasaan tidak aman dan tidak berharga selalu melingkupi seseorang dengan jebakan abandonment ini. Perilaku yang sering muncul saat dewasa adalah selalu mencari teman, selalu berusaha menunjukkan sikap baik pada orang lain meski orang lain itu telah bertindak buruk pada dirinya, dan yang paling tidak baik adalah selalu memosisikan dirinya pada posisi dibuang, tidak penting, atau tidak berarti. Seseorang dengan jebakan abandonment parah justru bisa semakin cinta ketika pasangan hidupnya melakukan petualangan cinta. Dia selalu memaafkan orang yang meninggalkan dirinya.

MISTRUST AND ABUSE merupakan jebakan kehidupan yang juga berkaitan dengan rasa aman dalam keluarga. Terlalu seringnya dibohongi atau dilecehkan semasa kecilnya menyebabkan seseorang tumbuh dengan rasa curiga, was-was, dan ketakutan yang luar biasa. Dalam pikiran seseorang dengan jebakan kehidupan jenis ini, orang lain selalu tidak bisa dipercaya karena selalu ingin menyakiti, menipu, atau mengambil keuntungan dari dirinya. Selalu berasumsi buruk terhadap orang lain adalah ciri khas seseorang dengan jebakan kehidupan jenis ini.

DEPENDENCE adalah jebakan kehidupan yang menyebabkan seseorang selalu merasa harus tergantung pada orang lain. Mengambil keputusan dan bertindak mandiri adalah dua hal yang paling susah dia lakukan dalam hidupnya. Selalu minta pertimbangan orang lain atau bahkan mengikuti saja apa yang orang lain putuskan atau pikirkan adalah ciri khas seseorang dengan jebakan tipe ini. Selalu ragu-ragu, bingung, dan panik kalau harus membuat keputusan adalah penampakan luar dari orang tersebut. Jebakan ini umumnya terjadi karena di masa kecil orang tersebut selalu di bawah 'ketiak' orang tua. Semua keputusan (bahkan untuk hal kecil seperti memilih warna baju) selalu harus atas persetujuan orang tua atau orang yang lebih tua. Orang tua yang overprotective dan otoriter adalah penyebab utama jebakan kehidupan dependence ini.

VULNERABILITY atau rasa rapuh yang berlebihan akan menyebabkan seseorang merasa hidup di dunia yang penuh dengan masalah, ancaman, perang, bencana, dan penyakit. Seseorang dengan jebakan kehidupan semacam ini selalu ragu untuk keluar dari zona nyamannya. Ke luar rumah atau pergi ke luar kota bisa sangat menakutkan, karena dia merasa seolah-olah seluruh dunia akan menghancurkannya. Dia merasa seluruh pencopet akan mencopet uangnya atau seluruh penyakit akan menyerang badannya. Sedikit rasa sakit pada bagian tubuh tertentu bisa menyebabkan orang ini tidak tidur semalaman (atau bahkan berhari-hari) karena ia khawatir ini adalah tanda-tanda awal sebuah penyakit besar. Dia juga bahkan selalu was-was akan kondisi keuangannya, akan gempa bumi yang bisa muncul setiap detiknya, ataupun akan munculnya seseorang yang sangat jahat saat seseorang mengetuk pintu rumahnya. Dunia adalah tempat yang penuh masalah, jebakan, dan tidak aman. Begitulah kira-kira keyakinan yang bersarang dalam diri seseorang dengan jebakan kehidupan vulnerability ini. Orang tua yang overprotective adalah penyebab utama jebakan kehidupan ini.

EMOTIONAL DEPRIVATION adalah jebakan kehidupan yang diderita oleh orang-orang yang semasa kecilnya tidak mendapat kehangatan emosi dan cinta secara cukup. Orang tua yang dingin dan miskin cinta adalah penyebab utama munculnya jebakan emotional deprivation ini. Jebakan ini berkaitan erat dengan koneksi emosi dengan orang lain. Merasa tidak diperdulikan atau merasa tidak satu orang pun mengerti perasaannya adalah hal-hal yang biasa ditemui pada seseorang dengan jebakan tipe ini. Karena kebiasaan tidak diperdulikan, orang tersebut juga sering tidak memperdulikan orang lain, membangun hubungan dengan orang yang dingin dan cuek, atau sebaliknya bertualang mencari 'cinta' dan kehangatan. Seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, berganti-ganti teman dekat, dan bahkan berganti-ganti pekerjaan bisa diduga membawa jebakan kehidupan jenis ini dalam dirinya. Aku tidak penting, aku tidak layak untuk dicintai, dan aku tidak berharga adalah tiga keyakinan utama seseorang dengan jebakan tipe ini.

SOCIAL EXCLUSION adalah kondisi di mana seseorang selalu merasa asing atau justru mengasingkan dirinya di dalam pergaulan sosialnya. Dia merasa tidak bisa diterima oleh kelompoknya karena merasa ada yang aneh atau berbeda dalam dirinya. Hal aneh atau berbeda itu bisa dalam bentuk keanehan fisiknya, cara bicaranya, perilaku berpikirnya, ataupun 'kasta'nya. Jebakan kehidupan jenis ini umumnya disebabkan oleh ejekan atau penilaian buruk oleh orang lain, ataupun perlakuan yang menyakitkan oleh orang tua atau orang di sekelilingnya. Berbagai perlakuan tersebut menyebabkan seseorang mengasingkan dirinya, tertutup, dan enggan membangun hubungan dengan orang lain. Keyakinan yang sering berkembang dalam pikirannya adalah aku buruk, aku aneh, aku tidak selevel, atau aku berbeda.

DEFECTIVENESS muncul dalam bentuk harga diri yang rendah dan selalu merasa inferior dibanding orang lain. Serangan kritik yang bertubi-tubi saat masih kecil, perasaan tidak berharga, dan tidak dicintai adalah pangkal munculnya jebakan kehidupan defectiveness ini.Kesukaan untuk menyalahkan diri sendiri, ragu-ragu apakah ada orang yang menghargai dirinya, dan selalu merasa akan ada penolakan dari orang lain adalah ciri-ciri penampakan luar dari adanya jebakan tipe ini dalam diri seseorang. Aku tidak berharga, aku tidak layak dicintai, dan aku pantas ditolak adalah sebagian dari keyakinan seseorang dengan jebakan tipe ini.

FAILURE adalah jebakan kehidupan di mana seseorang selalu merasa salah dan gagal dalam setiap aspek kehidupannya. Rasa percaya diri yang rendah adalah penampakan luar dari seseorang dengan jebakan kehidupan tipe ini. Tidak mampu mendapatkan nilai terbaik, tidak mampu melakukan sesuatu yang baru, atau ragu-ragu dalam melakukan tindakan adalah hal-hal yang bisa kita amati pada orang dengan jebakan failure ini. Bagi orang tersebut, semua yang akan dilakukan atau bahkan telah dilakukan selalu merupakan sekumpulan kegagalan. Dia tidak bisa menghargai keberhasilan karena memang sejak kecil selalu dicemooh, dianggap bodoh, dianggap tidak mampu, tidak terampil, ataupun malas. Saat dewasa, seseorang dengan jebakan ini selalu melebih-lebihkan kegagalannya dan kadang malah bertindak aneh dengan melakukan upaya, meski sering tidak disadarinya, supaya apa yang dilakukan itu gagal. Aku tidak mampu, aku selalu salah, aku adalah korban keadaan, aku tidak punya bakat, otakku tumpul, dan aku tidak bisa belajar adalah sebagian keyakinan yang dimiliki seseorang dengan jebakan kehidupan tipe ini.

#to be continue

Monday, February 18, 2013

So Soon Lyric by Maher Zain

Every time I close my eyes I see you in front of me
I still can hear your voice calling out my name
And I remember all the stories you told me
I miss the time you were around [x2]
But I’m so grateful for every moment I spent with you
‘Cause I know life won’t last forever

You went so soon, so soon
You left so soon, so soon
I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong
I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone
Gone so soon

Night and day, I still feel you are close to me
And I remember you in every prayer that I make
Every single day may you be shaded by His mercy
But life is not the same, and it will never be the same
But I’m so thankful for every memory I shared with you
‘Cause I know this life is not forever

You went so soon, so soon
You left so soon, so soon
I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong
I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone

There were days when I had no strength to go on
I felt so weak and I just couldn’t help asking: “Why?”
But I got through all the pain when I truly accepted
That to God we all belong, and to Him we’ll return, ooh

You went so soon, so soon
You left so soon, so soon
I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong
I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone
Gone so soon

Tuesday, January 29, 2013

Calon Presiden ke-13

Mengajar adalah hal paling menyenangkan dalam hidupku. Aku mengajar di sebuah sekolah dasar swasta di dekat rumah. Ada banyak peristiwa berkesan tiap harinya. Bertemu dengan anak-anak yang lucu, walau kadang menjengkelkan-tetapi lebih sering membahagiakan, menggoreskan kenangan yang tak kan terlupakan.

Tahun ini aku berkesempatan mengajar seorang anak bertalenta luar biasa. Aku mengaguminya. Belajar banyak hal darinya. Ia berusia 11-12 tahun. Oh, aku tidak tahu tanggal lahirnya-ya, ini memalukan :D ... 

Baiklah, kita mulai ceritanya. Ia seorang anak laki-laki yang sangat menyukai berbicara. Setiap kata yang meluncur dari mulutnya selalu berhasil membuat orang lain tertawa, termasuk aku. Saat aku mengajar, ia selalu 'nyeletuk' dengan kata-kata yang lucu. Ehm, mungkin celetukannya tidak lucu, tapi karena ia yang mengucapkan, semua jadi terdengar lucu.

Nama lengkapnya Muhammad Morsa Habibie, tapi ia lebih suka menyebut dirinya BJ Morsa Habibie. Cita-citanya menjadi Presiden RI ke-13. Hobbinya membaca autobiografi tokoh-tokoh besar atau para pahlawan kemerdekaan. Kau tau kan kalau buku autobiografi itu tebalnya sama dan bahkan lebih tebal dari kamus bahasa Inggris Hassan Sadily. Mungkin kalau aku yang membacanya, akan berhenti di halaman 2. Itu pun sudah maksimal. Haha, kecuali tokoh yang sangat kukagumi tentunya.. :)


Display picture di Blackberry Messenger-nya seringkali gambar Presiden atau mantan Presiden RI. Terkadang Gubernur, bahkan calon Gubernur pernah kudapati. Ia sering menyapaku via BBM sekedar memberitahu info terbaru tentang pemilihan kepala daerah atau bencana banjir di suatu wilayah. Dari sana, pembicaraan akan terus berlanjut tentang penyebab banjir, bagaimana cara menanganinya, bahkan sampai kriteria seorang pemimpin.

#to be continued... :)

Tuesday, May 8, 2012

Impression Words from Impression Person

Finally, setelah mengingat-ingat beberapa lama, kutemukan juga pengalaman berkesan dari orang yang berkesan yang mungkin akan kulupakan. Oleh karena itu, aku pun bermaksud menulisnya agar tidak lupa. Kalaupun lupa, aku bisa mengingatnya kembali dengan bantuan tulisan ini...

Pengalaman ini terjadi ketika aku menghabiskan liburanku selama lebih dari 2 hari di Krui, Liwa, Lampung Barat. Aku berangkat ke sana bersama dua orang rekan kerja dan seorang teman dari rekan kerja yang semuanya perempuan. Kami berangkat ke Krui dengan travel dan menghabiskan waktu sekitar lima setengah jam untuk sampai di sana. Rencananya kami akan menginap di cottage milik salah satu rekan kerja kami (foreign teacher) yaitu Mr Zane. Beliau berasal dari California, USA tapi lebih mencintai Indonesia, khususnya Krui.

Kami tiba di Krui pukul 17.30 WIB. Setibanya di sana, ternyata Mr Zane sedang bermain-main di pantai bersama dua orang anaknya, Sarah dan Alex. Dari wajahnya, terlihat jelas kalau Mr Zane sangat senang karena akan menghabiskan beberapa hari liburan bersama kami. Dengan senang hati ia bercerita tentang istrinya yang tidak suka kalau lantai dan tempat tidur kotor oleh pasir karena dirinya yang sering masuk-keluar cottage tanpa alas. Dengan bangganya ia bilang, "Saya nggak suka kalau lantai atau tempat tidurnya dibersihkan. Biar aja banyak pasirnya. Karena kita kan anak pantai".

Hahaha... Sungguh aneh...

Nah, lalu di manakah cerita berkesan itu? Hmm...

Cerita berkesan ini bermula ketika kami makan malam. Kebetulan saat itu ada tiga orang bule tamu Mr Zane yang juga menginap di cottage yang sama dengan kami. Siangnya, kami sempat jalan-jalan dengan jeep melewati sungai yang banyak batu dan pinggir pantai. Menegangkan tapi menyenangkan.. Tapi dalam perjalanan tersebut, Alex tidak ikut. Sarah bilang ia ngambek dengan alasan ia kehabisan celana dalam (celana dalamnya basah semua karena ia pakai untuk berenang di pantai)..

Pada saat makan malam, Alex belum hadir. Kemudian Mr Zane pun menanyakannya pada Sarah. Dengan bahasanya yang patah-patah, katanya "Sarah, mana Alex?"

"Alex lagi ngambek" jawab Sarah.

"Ngambek? Why?" tanya Mr Zane lagi.

"Soalnya....." Sarah tidak melanjutkan kalimatnya. Sepertinya ia bingung bagaimana menjawabnya karena ada tiga orang bule bersama kami. "Lucu" katanya.

"Hei, apanya yang lucu? Itu tidak lucu kalau menyakitkan bagi orang lain" kata Mr Zane sambil mengambil sayur di depannya.

Well, that's the story. Mungkin untuk sebagian orang nggak menarik. Tapi buatku, itu sangat sangat menarik. Yang menarik adalah pesan yang disampaikan oleh Mr Zane.

Wow! Mungkin kita nggak pernah kepikiran, ya? Kalimat sederhana tapi maknanya luar biasa.. Secara nggak langsung, ia mengajarkan Sarah (yang masih kelas 5 sekolah dasar) untuk menghargai orang lain, terutama adiknya..

Hmmm... Mudah-mudahan kita juga bisa belajar untuk berkata lebih bermakna dan bermanfaat, ya... Dimulai dari hal-hal sederhana...

Ayah adalah Ayah

Ayah adalah ayah. Dengan pengecualian pada kasus-kasus yang membuat seorang anak tidak beruntung lantaran berayah aneh. Tapi di bawah ufuk dan cakrawala kehidupan yang natural dan terbentang luas, ayah adalah ayah.

Pada bahunya yang melindungi, pada matanya yang mewanti-wanti, pada suaranya yang memperjelas batas-batas, pada bentuknya yang menandai, pada kata-katanya yang mudah, ayah kita adalah ayah dengan sebenar-benar ayah... Tentu banyak kurang di sana-sini. Tapi tidak adil rasanya kekurangan itu kita timpakan semua pada ayah kita sebagai pengurang berlebihan atas apa yang seharusnya kita tahu dan kita mengerti tentang ayah kita.

Faktanya, kita sering gagal menampung seutuhnya apa yang ayah definisikan tentang dirinya. Sebab, ayah kita sering 'mendefinisikan dirinya tanpa definisi'. Ayah kita menjelaskan dirinya seperti apa adanya dia, melalui keseluruhan hidupnya yang ia berikan untuk kita. Tanpa banyak kata keterangan, tanpa banyak tafsiran, tanpa banyak lampiran. Itulah yang disebut dengan "Cara ayah kita mencintai kita".

Di tahun-tahun yang sulit membesarkan kita, ayah kita selalu punya jalan untuk optimis. Ia punya caranya sendiri untuk yakin bahwa setelah gelap yang pekat, subuh segera tiba. Dan siang yang terang menjadi gamblang. Meskipun itu hanya tertangkap dalam kata-kata sederhana yang itu-itu saja, "Semoga" atau "Mudah-mudahan".

Tapi hidup terus berjalan dan kita pun tetap tumbuh gemuk-gemuk hingga kini. Setidaknya tidak terlampau kurus yang sangat-sangat. Di tahun-tahun yang lapang, saat beberapa nikmat berkenan datang, ayah kita selalu tahu bagaimana bersyukur. Di lubuk hatinya yang paling dalam, ia selalu jujur berkata, bahwa karena ada kita, anak-anaknya, Allah membagi untuknya rizqi dan karunia.

Setiap ayah selalu merasa rizqinya ada, sebagian karena kita anaknya. Sementara kita jarang yang meyakini bahwa rizqi kita ada, lantaran ada orang tua kita. Hampir setiap ayah mengambil sisi tanggung jawabnya sebagai ayah mendahului apa yang bisa ia nikmati sebagai ayah. Maka tak bisa dipungkiri, sering konsekuensi dari itu tergambar dalam sikap-sikapnya yang khas dalam membimbing kita, memperlakukan kita, dan menyertai kita. Sebagai imbalannya, Islam melarang seorang anak menasabkan dirinya kepada selain ayahnya. Tapi kita terlalu lambat memahami, bahwa itu yang disebut, sekali lagi, "Ayah kita punya caranya sendiri dalam mencintai kita".

Dan seperti inilah hasilnya, kita-kita hari ini. Dahulu ayah kita mencintai kita dengan apa adanya, tapi ketulusannya, kekuatan doanya, mampu mengantarkan kita sejauh ini, membuat kita sampai di sini. Kini kita berlimpah informasi, berlimpah ilmu, berlimpah pengetahuan, tapi cara kita mencintai sangatlah dangkal. Ayah adalah bahasa cinta yang kosa katanya berbeda.

Ayah adalah mata air cinta yang narasi kemasannya berbeda. Semoga belum terlambat bagi kita untuk memahami, betapa ayah kita punya caranya sendiri dalam mencintai kita...

Taken from: Tarbawi